Jumat, 20 Mei 2011

MANUSIA DAN KEADILAN


A.     PENGERTIAN KEADILAN
Menurut Aristoteles, keadilan adalah kelayakan dalam tindakan manusia. Keadilan menurut Plato diproyeksikan pada diri manusia sehingga yang dikatakan adil adalah orang yang mengendalikan diri, dan perasaannya dikendalikan oleh akal. Menurut Socrates, keadilan tercipta bilamana warga Negara sudah merasakan bahwa pihak pemerintah sudah melaksanakan tugasnya dengan baik.
Kong Hu Cu berpendapat keadilan terjadi apabila anak sebagai anak, ayah sebagai ayah, raja sebagai raja, masing – masing telah melaksanakan kewajibannya. Menurut pendapat yang lebih umum, keadilan itu adalah pengakuan dan perlakuan yang seimbang antara hak dan kewajiban. Keadilan adalah keadaan bila setiap orang memperoleh apa yang menjadi haknya dan setiap orang memperoleh bagian yang sama dari kekayaan bersama.

B.                 KEADILAN SOSIAL
Sila kelima Pancasila berbunyi : “ Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” Dalam lahirnya Pancasila diusulkan oleh Bung Karno adanya prinsip kesejahteraan sebagai salah satu dasar Negara. Selanjutnya dijelaskan sebagai prinsip “ tidak ada kemiskinan di dalam Indonesia merdeka”. Bung Hatta dalam uraiannya mengenai sila kelima menulis sebagai berikut “keadilan sosial adalah langkah yang menentukan untuk melaksanakan Indonesia yang adil dan makmur.”
Panitia ad – hoc majelis permusyawaratan rakyat sementara 1966 memberikan perumusan sebagai berikut :
“Sila keadilan sosial mengandung prinsip bahwa setiap orang di Indonesia akan mendapat perlakuan yang adil dalam bidang hukum, politik, ekonomi, dan kebudayaan”.
Dalam ketetapan MPR RI No.II/MPR/1978 tentang pedoman penghayatan dan pengalaman pancasila (ekaprasetia pancakarsa) dicantumkan ketenntuan sebagai berikut :
Dengan sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia manusia Indonesia menyadari hak dan kewajiban yang sama untuk menciptakan keadilan sosial dalam kehidupan masyarakat Indonesia”.
C.    BERBAGAI MACAM KEADILAN
a)      Keadilan Legal atau Keadilan Moral
Plato berpendapat bahwa keadilan dan hukum merupakan substansi rohani umum dari masyarakat yang membuat dan menjaga kesatuannya. Dalam suatu masyarakat yang adil setiap orang menjalankan pekerjaan yang menurut sifat dasarnya paling cocok baginya (The man behind the gun). Pendapat Plato ini disebut keadilan moral, sedangkan Sunoto menyebutnya keadilan legal.
b)     Keadilan Ditributif
Aristoteles berpendapat bahwa keadilan akan terlaksana bilamana hal – hal yang sama diperlakukan secara sama dan hal – hal yang tidak sama secara tidak sama (justice is done when equals are treated equally).
c)      Keadilan Komutatif
Keadilan ini bertujuan memelihara ketertiban masyarakat dan kesejahteraan umum.  Bagi Aristoteles keadilan merupakan asas pertalian dan ketertiban dalam masyarakat. Semua tindakan yang bercorak ujung ekstrim menjadikan ketidakadilan dan akan merusak atau bahkan menghancurkan pertalian dalam masyarakat.
D.    KEJUJURAN
Kejujuran atau jujur artinya apa yang dikatakan seseorang sesuai dengan hati nuraninya apa yang dikatakannya sesuai dengan kenyataan yang ada. Jujur juga berarti seseorang bersih hatinya dari perbuatan – perbuatan yang dilarang oleh agama dan hukum.
E.     KECURANGAN
Kecurangan atau curang artinya apa yang diinginkan tidak sesuai dengan hati nuraninya. Kecurangan menyebabkan manusia menjadi serakah, tamak, ingin menimbun kekayaan yang berlebihan dengan tujuan agar dianggap sebagai orang yang paling hebat, paling kaya dan senang bila masyarakat disekelilingnya hidup menderita.
F.     PEMULIHAN NAMA BAIK
Nama baik adalah nama yang tidak tercela. Setiap orang menjaga dengan hati – hati agar namanya tetap baik. Akhlak berasal dari bahasa Arab yang berarti penciptaan. Ada 3 macam godaan yaitu derajat/pangkat, harta, dan wanita.
G.    PEMBALASAN
Pembalasan ialah suatu reaksi atas perbuatan orang lain. Pembalasan disebabkan oleh adanya pergaulan. Pergaulan yang bersahabat mendapat balasan yang bersahabat. Sebaliknya, pergaulan yang penuh kecurigaan menimbulkan balasan yang tidak bersahabat pula.

MANUSIA DAN KEBUDAYAAN


A. Manusia
Menurut kimia manusia merupakan kumpulan dari partikel-partikel atom yang membentuk jaringan-jaringan sistem. Manusia dapat diartikan dalam ilmu apa saja seperti ilmu fisika, kimia, biologi, ekonomi,sosial,politik dan filsafat. Ada 2 pandangan yang akan dijadikan acuan untuk menjelaskan tentang unsur-unsur yang membangun manusia, yaitu:
1)      Terdiri dari 4 unsur yang saling terkait :
a)      Jasad = badan kasar manusia yang nampak dari pada luarnya, dapat diraba dan difoto dan menempati ruang dan waktu.
b)      Hayat = mengandung unsur hidup seperti bergerak.
c)      Ruh = bimbingan dan pimpinan Tuhan.
d)      Nafs = kesadarantentang diri sendiri.
2)      Manusia sebagai satu kepribadian, mengandung 3 unsur :
a)      ID merupakan struktur kepribadian yang paling primitif dan paling tidak nampak.
b)      EGO merupakan bagian atau struktur kepribadian yang pertama kali dibedakan dari ID, sehingga sering disebut kepribadian “eksekutif” karena peranannya dalam menghubungkan energi ID kedalam saluran sosial yang dapat dimengerti oleh orang lain.
c)      SUPEREGO merupakan struktur kepribadian yang paling akhir, muncul kira-kira pada usia 5tahun.
B. Hakekat manusia:
a) Mahluk ciptaan Tuhan yang terdiri dari tubuh dan jiwa sebagai satu kesatuan yang utuh.
b) Mahluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, dibandingkan dengan mahluk lain. perasaan manusia antara lain:
·         Perasaan Intelektual.
·         Perasaan Estetis.
·         Perasaan Etis.
·         Perasaan Diri.
·         Perasaan Sosial.
·         Perasaan Religius.
c) Mahluk Biokultural, yaitu hayati yang budayawi.
d) Mahluk ciptaan Tuhan yang terkait dengan lingkungan(ekologi), mempunyai kualitas dan martabat karena mampu bekerja dan berkarya.

C. Kepribadian Bangsa Timur
            Manusia adalah produk dari saling tindak atau interaksi faktor-faktor hayati dan budayawi. Begitu pula manusia dapat dipelajari diberbagai segi baik hayati maupun budayawi.

D. Pengertian Budaya
Menurut koentjaraningrat berarti keseluruhan gagasan dan karya manusian yang harus dibiasakan dengan belajar beserta keseluruhan dari hasil budi pekerti.






E. Unsur Budaya
C. Kluckhohn dalam karyanya berjudul Universal Categories of culture, ada 7 unsur kebudayaan universal, yaitu :
1. Sistem Religi (kepercayaan)                         5. Sistem Teknologi
2. Sistem Organisai kemasyarakatan                6. Bahasa
3. Sistem Pengetahuan                                     7. Kesenian
4. Sistem ekonomi
F. Wujud kebudayaan
            Menurut Dimensi wujudnya, kebudayaan ada 3 wujud :
            1. Kompleks gagasan, konsep dan pikiran manusia.
            2. Kompleks aktivitas.
            3. Wujud sebagai benda.
                                                                                                                                   
G. Orientasi nilai budaya
            Menurut C. Kluckhohn, secara universal menyangkutb 5 masalah pokok kehidupan manusia, yaitu :
            1. Hakekat hidup manusia.
            2. Hakekat karya manusia.
            3. Hakekat waktu manusia.
            4. Hakekat alam manusia.
            5. Hakekat hubungan manusia.

H. Perubahan budaya 
            Perubahan budaya terjadi apabila suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan pada unsur-unsur suatu kebutuhan asing yang berbeda sedemikian rupa, hingga unsur-unsur kebudayaan asing dengan lambat laun diterima dan diolah kedalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri.
            1. Pada umumnya unsur kebudayaan asing yang mudah diterima :
            a) Unsur-unsur kebudayaan kebendaan.
            b) Unsur-unsur yang terbukti bermanfaat besar.
            c) Unsur-unsur yang dengan mudah disesuaikan dengan keadaan masyarakat tersebut.
2. Sedangkan yang sulit diterima :
a) Unsur-unsur yang menyangkut kepercayaan.
b) Unsur-unsur yang dipelajari pada taraf pertama proses sosialisasi.
3. Pada umumnya generasi muda dianggap sebagai individu yang cepat menerima kebudayaan asing dengan proses akulturasi.
4. Suatu masyarakat yang terkena proses akulturasi, selalu kelompok-kelompok individu yang sukar sekali atau bahkan tidak dapat menyesuaikan diri dengan perubahaan-perubahan yang terjadi.

I. Kaitan manusia dengan kebudayaan
            Manusia sebagai perilaku kebudayaan dan kebudayaan merupakan objeyang dilaksanakan manusia.
            Proses dialektis tercipta melalui 3 tahab yaitu :
            1. Eksternalisasi = proses dimana manusia mengekspresikan dirinya denga membangun dunianya.
2. Obyektivitas             = proses dimana masyarakat menjadi realitas obyektivitas.
3. Internalisasi = proses dimana masyarakat dianggap kembali oleh manusia.

MANUSIA DAN KEGELISAHAN


A.    PENGERTIAN KEGELISAHAN
         Kegelisahan merupakan hal yang menggambarkan seseorang tidak tentram hati maupun perbuatannya, merasa khawatir, tidak tenang dalam tingkah lakunya, tidak sabar ataupun dalam kecemasan. Seorang ahli psikoanalisa Sigmund Freud berpendapat bahwa ada tiga macam kecemasan yang menimpa manusia, yaitu :
a)      Kecemasan obyektif             
            Kecemasan tentang kenyataan adalah suatu pengalaman perasaan sebagai akibat pengamatan atau suatu bahaya dalam dunia luar. Bahaya adalah sikap keadaan dalam lingkungan seseorang yang mengancam untuk mencelakakannya.
b)     Kecemasan neorotis (syaraf)           
            Kecemasan ini timbul karena pengamatan tentang bahaya dari naluriah. Menurut Sigmund Freud, kecemasan ini dibagi tiga, yaitu :
1.      Kecemasan yang timbul karena penyesuaian diri dengan lingkungan.
2.      Bentuk ketakutan yang tegang dan irrasional (phobia).
3.      Rasa takut lain ialah rasa gugup, gagap, dan sebagainya.
c)      Kecemasan moril
            Kecemasan moril disebabkan karena pribadi seseorang. Tiap pribadi memiliki bermacam-macam emosi antara lain ; iri, benci, dendam, dengki, marah, gelisah, cinta, dll. Rasa iri, benci, dengki, dendam merupakan sifat yang tidak terpuji, bahkan bisa mengakibatkan manusia merasa khawatir, takut, cemas, gelisah, dan putus asa.

B.     SEBAB – SEBAB ORANG GELISAH
            Sebab-sebab orang gelisah karena pada hakikatnya orang takut kehilangan hak-haknya. Hal itu adalah akibat dari suatu ancaman, baik ancaman dari luar maupun dalam.

C.    USAHA – USAHA MENGATASI KEGELISAHAN
            Mengatasi kegelisahan, dimulai dari diri kita sendiri, yaitu harus bersikap tenang. Cara lain yaitu dengan memerlukan sedikit pemikiran seperti : pertama, kita tanyakan kepada diri kita (introspeksi), akibat paling buruk yang bagaimana yang akan terjadi, mengapa hal ini terjadi, apa penyebabnya, dsb. Kedua, kita bersedia menerima akibatnya dengan rasa tabah dan senang hati. Dan yang ketiga, dengan berjalannya waktu kita dapat mencoba untuk mengurangi keburukan-keburukan akibat timbulnya kecemasan dan dengan demikian kita tidak akan merasakan lagi adanya rasa kecemasan/kegelisahan dalam jiwa kita. Untuk mengatasi kegelisahan yang paling ampuh kita memasrahkan diri kepada Tuhan.

D.    KETERASINGAN
            Keterasingan berarti hal-hal yang berkenaan dengan tersisihkan dari pergaulan, terpencil atau terpisah dari yang lain. Yang menyebabkan orang berada dalam keterasingan ialah perilakunya yang tidak dapat diterima atau tidak dapat dibenarkan oleh masyarakat, atau kekurangan yang ada pada diri seseorang, hingga ia tidak dapat atau sulit menyesuaikan diri dalam masyarakat.

E.     KESEPIAN
            Kesepian berarti merasa sunyi atau lengang, tidak berteman. Setiap orang pernah mengalami kesepian, karena kesepian merupakan bagian hidup manusia.

Sebab – sebab terjadinya kesepian
            Frustasi dapat mengakibatkan kesepian. Dalam hal ini orang tidak mau diganggu, ia lebih senang dalam keadaan sepi, tidak suka bergaul, dsb. Ia lebih senang hidup sendiri. Kesepian akibat dari keterasingan. Orang yang frustasi bersikap rendah diri, sengaja menjauhi pergaulan ramai. Orang yang bersikap rendah diri, pemalu, minder, merasa dirinya kurang berharga disbanding orang lain, maka orang itu lebih suka menyendiri. Karena menyendiri itu akibatnya kesepian.

F.     KETIDAKPASTIAN
            Ketidakpastian artinya keadaan yang tidak pasti, tidak tentu, tidak dapat ditentukan, tidak tahu, keadaan tanpa arah yang jelas, keadaan tanpa asal-usul yang jelas. Itu semua akibat pikirannya tidak dapat berkonsentrasi.

G.    SEBAB – SEBAB TERJADI KETIDAKPASTIAN
Beberapa sebab orang tidak dapat berpikir dengan pasti :
1.      Obsesi, merupakan gejala neurosa jiwa, adanya pikiran atau perasaan tertentu secara terus menerus.
2.      Phobia, rasa ketakutan yang tak terkendali, tidak normal, kepada sesuatu hal atau kejadian tanpa diketahui sebab-sebabnya.
3.      Kompulasi, adanya keragu-raguan tentang apa yang telah dikerjakan, hingga ada dorongan yang tidak disadari melakukan perbuatan yang sama berkali-kali.
4.      Histeria, neurosa jiwa yang disebabkan oleh tekanan mental, kekecewaan, pengalaman pahit yang menekan, kelemahan syaraf, tidak mampu menguasai diri, sugesti dari sikap orang lain.
5.      Delusi, menunjukkan pikiran yang tidak beres, karena berdasarkan suatu keyakinan palsu. Delusi ada tiga macam, yaitu delusi persekusi, delusi keagungan, dan delusi melancholis.
6.      Halusinasi, khayalan yang terjadi tanpa rangsangan pancaindera.
7.      Keadaan emosi, dalam keadaan tertentu seseorang sangat berpengaruh oleh emosinya. Ini Nampak pada pribadinya: gangguan pada nafsu makan, pusing-pusing, muka merah, nadi cepat, keringat, tekanan darah tinggi/lemah.


H.    USAHA – USAHA PENYEMBUHAN KETIDAKPASTIAN
            Untuk dapat menyembuhkan keadaan ini, tergantung pada mental di penderita. Misalkan penyebabnya sudah diketahui, kemungkinan juga tidak dapat sembuh. Bila itu terjadi, maka jalan terbaik yaotu diajak atau pergi ke psikolog